Pahami Belajar dari Sumur -->

Menu Atas

Loading...
DESKRIPSI GAMBAR

Advertisement

Pahami Belajar dari Sumur

By: M Abdul Rosyid
Monday, 25 March 2019

Gambar ilustrasi

7liputan - Banyak hal dalam menjalani hidup untuk dipelajari asalkan punya niat, dari awal melihat, merasa dan berpikir walaupun dari hal yang di anggap sepele.


Kebanyakan orang mungkin pernah tahu atau setidaknya mendengar kata sumur. Jika kita rajin memerhatikannya dengan saksama, akan ditemukan fenomena menarik yang membalikkan logika materialistis. Logika materialistis menyatakan bahwa sesuatu yang dibagikan atau diambil jumlahnya, akan berkurang dan menyusut. Namun, fenomena sumur berbicara lain. Sumur semakin sering diambil airnya, semakin bertambah dan bersih airnya.


Air sumur pada umumnya mengandung lumut yang terkadang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Baru diketahui setelah menempel di dinding-dinding bak mandi. Lumut ini akan terangkat dari sumur berbarengan dengan ditimba airnya. Semakin banyak air ditimba, akan semakin banyak pula lumut yang terangkat dari sumur. Akibatnya, mata air-mata air yang berada di dalamnya terbebas dari sumbatan endapan lumut.


Selain itu, lubangnya semakin membesar dan bertambah karena terstimulan oleh banyaknya air yang diambil. Oleh karena itu, menjadi sangat logis jika sebuah sumur yang airnya banyak diambil, akan semakin banyak jumlahnya dan jernih warnanya ketika tiba musim kemarau.


Sebaliknya, jika sebuah sumur jarang, bahkan tidak pernah diambil airnya, lumut yang berada di dalamnya akan mengendap. Bila endapan tersebut dibiarkan dalam jangka waktu yang lama, ia akan menutupi lubang air yang berada di sumur tersebut.


Alih-alih mata airnya bertambah, yang ada saja menjadi tertutup oleh lumut. Oleh karena itu, jika tiba musim kemarau, sumur yang jarang diambil airnya akan kering kerontang dan jika ingin berair lagi, harus dikuras terlebih dahulu.


Fenomena sumur di atas sejalan dengan prinsip berbagi dalan ajaran Islam. Menurut Islam, harta seseorang tidak akan berkurang karena disedekahkan. Malah, secara kualitas, akan semakin bertambah. Ada tiga istilah pokok dalam Alquran yang merujuk pada berbagi, yakni infak, zakat, dan sedekah. Infak berasal dari kata nafaqa yang berarti keluar. Berinfak berarti mengeluarkan sesuatu (harta), baik pada jalan kebaikan (QS Ali Imran [5]: 134) maupun jalan keburukan (QS al-Anfal: 36).


Infak pada jalan kebaikan terbagi ke dalam dua bagian, yakni zakat dan sedekah. Zakat secara bahasa berarti bersih dan tumbuh. Ketika seseorang berzakat, pada hakikatnya ia sedang membersikan hartanya dari hak orang lain. Terkadang, hak orang lain pada harta seperti lumut, yaitu sangat halus dan keberadaannya jarang disadari sehingga orang tidak berzakat salah satunya karena merasa hartanya sudah halal atau bersih.


Padahal, pada harta halal itu tetap saja masih ada kotoran berupa hak orang lain. Oleh karena itu, mengeluarkan zakat secara berkala menjadi sangat penting supaya harta menjadi bersih dan menumbuhkan kebaikan sebagaimana firman Allah SWT, "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Dengan zakat itu, kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS at-Taubah: 103).

[Ris]
Sumber Republika